selamat datang

Ya TUHAN, Penguasa seluruh alam, Yang Maha Perkasa, Maha Kaya, Maha Bijaksana, Maha Adil, dan segala MAHA hanya milikMU, ampunkan diri kami yang sering berlaku sombong, yang sok pinter, sok tahu, sok berpengalaman dan sok-sok-an lainnya. Dengan Maha Kasih dan Maha SayangMU, kami mohon petunjuk, mohon bimbingan, dalam menjalankan tugas untuk ikut memakmurkan bumi ini, lindungilah kami dari segala godaan yang menyesatkan, hingga sering menjauh dari tugas mulia yang telah ENGKAU perintahkan. Berilah kekuatan untuk melawan kezaliman hati kami. Jauhkanlah kami dari rasa takut menderita, takut kekurangan, dan ketakutan lain yang membuat diantara kami saling membiarkan, saling menelantarkan, dan hanya mementingkan diri kami sendiri. Dengan IzinMu, kami berkumpul, bersilaturahmi di wahana ini, untuk saling mengingatkan, saling berbagi, saling membimbing diantara kami. Hindarkanlah kami dari kegemaran saling mengolok-olok, tuntunlah kami dalam kesantunan, dan kerendahan hati. Hindarkanlah diantara kami dari rasa paling benar, karena memang hanya kebenaranMu-lah yang paling hakiki.

Sabtu, 19 Februari 2011

MENYEHATKAN BISNIS WARUNG KELONTONG

Sutie Rahyono -  Praktisi dan trainer kewirausahaan

Warung kelontong mungkin salah satu bisnis paling diminati masyarakat.  Rata-rata mereka menerjuni bisnis ini dengan alasan tidak perlu ketrampilan tinggi, mereka beranggapan bahwa bisnis ini hanya perlu melakukan pekerjaan belanja barang/kulak-an, menata barang, duduk menunggu pembeli, pasang harga jual diatas harga beli, sederhana sekali.  Begitu pikir mereka.

Namun apakah sesederhana itu?  Kalau cuma sesederhana itu, mengapa banyak warung kelontong baru yang tumbuh, belum  sempat berkembang, langsung layu.  Anehnya pula, masih banyak warung baru tumbuh, bahkan  yang baru lebih banyak dari yang bangkrut tersebut.  Kalau kenyataannya demikian, tentu ada yang salah akan anggapan di atas.

Dalam kenyataan, tidak sedikit suatu warung terlihat bertambah besar, barang dagangannya bertambah banyak.  Dari luar terlihat seakan warung tersebut berkembang, namun perkembangannya semu, sebenarnya tidak efisien.  Banyak warung yang terlihat besar, dengan nilai barang dagangan 75 – 100 juta, tapi omsetnya hanya 500 ribu – satu juta perhari.  Sangat tidak efisien jika dibandingkan dengan para pebisnis sayuran di pasar, dengan berangkat ke pasar bermodal 500 ribu, pulang bisa membawa uang satu juta rupiah, untungnya 100% perhari, . . .dahsyat.

Melihat kasus warung di atas, menunjukkan bahwa besarnya warung, bertambah banyaknya barang dagangan, tidak menjamin sehatnya suatu usaha.  Jangan-jangan pemiliknya tidak faham tentang karakter bisnis warung kelontong, atau tidak mampu menjual, dan tidak memahami barang apa yang dibutuhkan lingkungannya, sehingga menyediakan barang yang bukan kebutuhan prospek calon pembelinya. Mereka mengambil kesimpulan yang masih perlu diluruskan, pembeli sepi karena barang dagangannya kurang komplit.  Akhirnya mereka mencari modal tambahan entah dari bawah kasur atau bahkan berani mengajukan pinjaman, hanya untuk melengkapi jenis barang hasil pengambilan kesimpulan yang gegabah di atas. Akhirnya barang dagangan tambah banyak, bukannya tambah maju, malah tambah kedodoran, kualitas barang berdebu atau ketinggalan jaman.  Semakin menggenapi penyebab kebangkrutannya.

Jika kita perhatikan beberapa penyebab bertambahnya tumpukan stok barang dagangan yang dimiliki para wirausahawan warung kelontong, selain untuk melengkapi (komplitnya) barang yang ditawarkan, juga disebabkan ketidak mampuannya menangkap segmen pasar pelanggannya, ketidakmampuannya menangkap siklus perdagangan suatu produk dan mengulang kembali yang ternyata telah terbukti laris dan ingin mengulanginya.  Jika ini yang terjadi, maka benar bahwa usahanya tidak akan pernah efisien.  Kondisi ini akan diperparah lagi, jika didorong oleh para pemasar produk perbankan yang beranggapan, kalau suatu toko stok barangnya banyak, maka warung tersebut besar sehingga layak diberi pinjaman.

Apabila menemukan nasabah yang demikian apa yang harus kita lakukan? Upaya apa yang harus kita sarankan agar usahanya menjadi lebih sehat, pendapatan dan untungnya bertambah, plafon kreditnyapun bisa dinaikkan.

Keberhasilan  usaha toko kelontong akan dipengaruhi oleh jumlah pembeli/pelanggan yang datang yang dipengaruhi oleh pemahaman terhadap segmen pelanggannya, nilai belanja setiap pelanggan, persediaan barang, pemajangan , kewiraniagaan pegawai/wirausahawannya, pemilahan keuangannya serta jejaring/network antar wirausaha toko kelontong.

Pemahaman karakter pelanggan. Mari kita lihat catatan atau kita ingat kebiasaan para pelanggan kita dalam membeli produk yang kita tawarkan, apa dasar yang digunakan pelanggan kita untuk menentukan membeli suatu produk, apakah karena  merk, kualitas barang, harga, hadiah, besar kemasan yang tersedia, bungkus kecil atau besar, atau ada faktor lain bahkan kombinasinya.  Jika karakter pelanggan telah ditangkap, atur kembali persediaan sesuai dengan yang diinginkan dan dibutuhkan pelanggan tersebut. Persediaan yang telah terlanjur diadakan dan ternyata lambat penjualannya atau sedikit peminatnya harus segera dikeluarkan tukar atau lemparkan ke rekanan toko yang memiliki karakter yang cocok dengan produk yang berlebih tersebut, hal ini sangat penting agar modal tidak berhenti, serta menghindari resiko rusak, ketinggalan jaman dan kadaluarsa.  Kunci berjalannya strategi ini adalah kemampuan membangun jaringan dengan wirausahawan sejenis.   Dengan demikian persediaan tidak asal lengkap tetapi sesuai dengan kebutuhan  segmen  yang menjadi target pasarnya.

Kita perlu ingat bahwa pembeli/pelanggan tidak datang dengan sendirinya . Jumlah pembeli/pelanggan; sangat dipengaruhi oleh upaya kita menarik mereka, dengan program promosi, bentuk promosi yang tepat.  Ingat, tidak semua konsumen senang dengan program diskon, ada kelompok konsumen yang malu datang ke toko yang program promosinya dengan diskon dan ditulis besar-besaran dalam spanduk, ada kelompok pelanggan yang melihat harga murah mencerminkan kualitas rendah.  Kelompok mana pelanggan kita, karakter dan kebiasaan mereka bisa kita tangkap pada saat  mereka belanja.     wilayah penyebaran iklan/brosur sesuai dengan pasar potensial yang sesuai dengan karakter produk kita.  Program keberulangan membeli akan lebih manjanjikan keberlangsungan usaha dari pada sekedar diskon/potongan harga, beli sepuluh (kali) gratis 1 kali, untuk aqua atau gas misalnya. 

Calon pembeli/pelanggan yang telah kita upayakan untuk datang dengan promosi jangan tidak dioptimalkan nilai/jumlah pembeliannya.  Untuk itu kepiawaian para petugas yang melayani harus ditingkatkan kemampuan kewiraniagaannya.  Keramahan, pengetahuan produk dan menjual dengan mengingatkan dan mengusulkan.  Untuk itu perlu dibuat target rataan jumlah/nilai belanja setiap pembeli/pelanggan, dan diupayakan naik dari bulan ke bulan.

Jumlah pembelian para pelanggan juga sangat dipengaruhi oleh cara pemajangan barang dagangan.  Buat 3 (tiga)  zona pemajangan, zona atas, zona tengah dan bawah,  zona tengah untuk memajang barang dagangan yang memiliki margin keuntungan yang besar,  atau yang harus cepat terjual.  Zona ini mudah terlihat sehingga mudah menarik minat untuk membeli.  Jangan memajang barang dibeberapa tempat, jika ini terjadi, maka apabila penjaga toko yang biasa bertugas berhalangan datang, bisa berakibat turunnya omset.

Agar usaha bisa berjalan langgeng dan semakin meningkat, maka usaha perlu dijaga dengan memelihara pelanggan untuk tetap loyal,  karyawan supaya betah, dan pemasokpun bersemangat menyediakan barang.

Kamis, 17 Februari 2011

ALIH PROFESI (dari karyawan ke Wirausaha)

Sutie Rahyono - praktisi dan trainer kewirausahaan

Ada pola pikir dan kebiasaan yang harus dirubah mana kala seseorang ingin beralih profesi dari karyawan/pegawai/tentara/polisi menjadi seorang wirausaha.  Setidaknya ada 3 hal mendasar yang harus berubah, yaitu: Pola pikir, Pola belanja dan filosofinya.

Pola pikir mereka yang yang  menjadi karyawan/pegawai biasanya berorientasi kemanan penghasilan, mereka biasanya ingin Berpenghasilan Tetap. Mereka harus sadar dan faham bahwa wirausaha tidak berpenghasilan tetap, tetapi Tetap Berpenghasilan.
 
Pola pikir di atas kelihatannya sederhana dan hanya dibalik, tetapi memiliki konsekuensi yang berbeda dalam  memanfaatkan penghasilan yang diperoleh.  Biasanya pola belanja mereka yang berpenghasilan tetap apabila menerima pendapatan/gaji, digunakan untuk belanja memenuhi kebutuhan keluarga, dan menabung menjadi urutan setelah belanja tercukupi, atau kalau ada sisa.  Jika kebiasaan ini masih digunakan manakala telah beralih profesi menjadi wirausaha, maka perkembangan usahanya tentu akan lambat.   Jika telah beralih profesi menjadi wirausaha, sebaiknya pola belanja harus berubah, sesaat setelah menerima pendapatan/laba, maka menabung menjadi urutan pertama dan belanja keperluan keluarga secukupnya atau dibatasi atau bahkan sisanya, karena hari-hari ke depan belum tentu memperoleh pendapatan. Kita sering mendengar bahwa saudara kita etnis cina yang kita akui piawai dalam berbisnis, makannya bubur sebelum usahanya berhasil dan baru akan makan nasi apabila usahanya telah bedrhasil.  Jika tanggungan keluarga bertambah dan hasil usahanya belum mampu untuk menambah membeli beras, maka tidak dipaksakan (apalagi dengan berhutang) hanya untuk menambah membeli beras.  Yang ditambah adalah airnya hingga menjadi bubur.  Semua dilakukan dengan penuh kesadaran dan disiplin, jika tidak maka modal dagang bisa habis dimakan untuk memenuhi keperluan rumah tangganya yang tak terkendali.

Filosofi hidupnya masih menganut ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.  Filosofi ini memang luhur untuk mengendalikan kita tidak menjadi orang yang sombong dan tinggi hati.  Tetapi jika dibawa ke ranah wirausaha sering menjadi batu sandungan bagi usahanya.  Tidak sedikit para mantan pegawai/karyawan/tentara/polisi yang berwirausaha apabila ditanya tentang usahanya menjawab dengan rendah hati bagai sang padi, …. Yah usaha “kecil-kecilan”, “iseng aja” bahkan “dari pada nganggur” katanya, dan tidak sedikit pula akhirnya kecil bener, iseng bener dan nganggur bener.   Mereka masih segan dan malu menyebut dengan bangga bahwa sop buntut warungnya dikenal enak,  Power steering bengkelnya jarang mengecewakan, atau kualitas produknya banyak yang menyenanginya.  Sepele memang, tapi kalau pemiliknya tidak bangga akan usahanya bagaimana orang lain akan bangga.  filosofi Ilmu padi yang harus dipakai manakala beralih profesi menjadi wirausaha tentunya semakin berisi semakin tegak.  

Selamat mencoba.

MENYIAPKAN MODAL USAHA

Sutie Rahyono - Praktisi dan Trainer Kewirausahaan

JIka disebut modal usaha, di benak kita jangan langsung terbayang setumpuk uang yang bisa kita gunakan untuk membeli keperluan  yang dibutuhkan dalam suatu usaha.    Apabila semua ini tersedia, kita beranggapan suatu usaha bisa dimulai.  Usaha atau bisnis tidak sesederhana itu. 

Uang memang kita perlukan dalam menjalankan suatu usaha, penting memang, tetapi bukan yang terpenting, ketersediaan uang yang banyak  tidak menjamin keberhasilan suatu bisnis.  Jauh sebelum sampai pada Modal  uang, kita perlu mempersiapkan modal lain yang lebih penting dan lebih mentukan dalam mendukung keberhasilan suatu usaha, yaitu modal Kepribadian, Kreatifitas dan Profesionalime.

Untuk menjadi seorang wirausahawan modal yang perlu dipersiapkan memang sangat berbeda dengan modal untuk mempersiapkan diri menjadi karyawan.  Menjadi seorang karyawan, biasanya hanya diperlukan modal pengetahuan dan ketrampilan yang parsial, menguasai ilmu akuntansi saja  bisa digunakan sebagai modal melamar pekerjaan. Demikian pula jika kita hanya memiliki  ilmu marketing, ilmu kelistrikan, permesinan, Ilmu mengelola sumberdaya manusia  dan sebagainya, karena semua yang parsial tersebut nantinya akan dipadu menjadi sebuah teamwork.  Tidak demikian halnya dengan wirausaha, semua harus ditangani sendiri, dan harus dipersiapkan sendiri dengan baik dan sedini mungkin.

Walaupun untuk menjadi usahawan  dituntut memliki modal yang  komplit,  namun semua bisa tidak harus kita miliki sendiri secara pribadi, modal dan Ilmu yang dibutuhkan, bisa dimiliki banyak orang,  asal kita tahu siapa yang memilikinya, berusaha mengenal dan menjalin hubungan dengan baik dengan para pemiliknya dan menjadikannya sebuah jaringan yang kokoh.  Untuk itu dengan segala keterbatasan, kita harus memiliki ketrampilan dan keunngulan untuk piawai membina hubungan dengan orang lain.  Untuk semua itu diperlukan modal Kepribadian, Modal Kreatifitas dan Modal Profesionalisme.


Modal Kepribadian

Dasar untuk mengembangkan  modal  kepribadian ini adalah menyadari kelebihan dan  kelemahan yang dimiliki, namun tidak jumawa, yang seakan hanya memiliki kelebihan tanpa cacat dan kekurangan, mengetahui apa yang menjadi hobi dan kesukaannya, mampu mengendalikan emosinya, piawai membaca perasaan  orang lain atau empaty dan juga memiliki motivasi tinggi dan tak gampang pudar. Motivasi ini akan menjadi pendorong utama seseorang untuk mampu bertahan dan berjuang terus menerus.   Motivasi ini biasanya akan muncul dan terlihat dalam bentuk antusiasme di dalam mengerjakan setiap pekerjaan.

Mereka yang terampil menguasi dirinya, akan memiliki kepribadian yang luhur, dan biasanya akan memiliki kecakapan sosial yang tinggi yang akan membuahkan  citra diri yang positif sebagai modal dasar dalam membangun jejaring bisnisnya.  Sebagai modal dalam membangun hubungan dengan pemilik sumberdaya usaha yang diperlukan tapi tidak dimilikinya, sebagai modal untuk membangun hubungan dengan lingkungan bisnis dan sebagai modal untuk membangun hubungan dengan para karyawannya.

Contoh pentingnya modal ini bisa kita perhatikan dari penaglaman disekitar kita, sebuah usaha yang telah berhasil dibina dan dirintis orang tuanya, hancur dan jatuh setelah diwariskan kepada anak keturunannya.  Mengapa ini bisa terjadi, padahal modal dagangan/uang sudah banyak, modal nama yang sudah dikenal, modal pelangganpun  sudah banyak pula.  Modal yang ada tersebut ternyata tidak mampu untuk mempertahankan usaha yang sudah besar, apalagi untuk membangunnya.  Kejatuhan tersebut tidak sedikit yang dipacu oleh  karena yang diwariskan hanya bisnisnya, orang tua tidak mewariskan kepribadiannya, tidak mewariskan ketrampilan sosialnya, ketrampilan berhubungan dengan orang lain, ketrampilan mengendalikan emosinya, kejujuran, kesantunan serta empaty yang selama ini menjadi kekuatannya.  Orang tuanya lupa, tidak sadar atau tidak memahami, bahwa modal yang membesarkan usahanya adalah modal kepribadiannya.  Karena modal ini tak diwariskan, maka pelanggan yang selama ini dihargai, menerima kesantunan dan kepedulian dari orang tuanya, tiba-tiba perlakuan tersebut tak diperolehnya dari putranya.  Pelanggan akhirnya kecewa, malas, merasa tidak diorangkan dan banyak alasan lagi jika kita peduli untuk menulusurinya.

Modal kepribadian ini, tidak bisa datang begitu saja, tidak pula diwariskan secara genetic, semua harus melalui tahapan proses,  menyadari dan berlatih.  Memahami benar kekurangan dan kelebihan pada dirinya , tetapi tidak merasa paling berpengalaman, sok pintar dan berkuasa,  menerima segala kritik dan masukan dengan lapang dada,  menjauhkan diri dari gengsi dan rasa malu  yang tidak pada tempatnya.  Mengendalikan nafsu amarah sesuai porsi dan tidak di sembarang tempat.  Tidak egois dan mementingkan diri sendiri sehingga dikenal rakus dan tidak memiliki rasa pemaaf apalagi kedermawanan.  Tidak selalu berprasangka buruk pada orang lain dan pesaing. 

Penguasaan diri seperti ini merupakan modal kepribadian yang akan membawa pada citra diri yang positif yang sangat berharga dan sangat diperlukan di dalam keberhasila suatu usaha.  Penelitian Cuningham menyebut 49% kunci keberhasilan suatu usaha ditentukan oleh kepribadian pemiliknya, dan 17% berhubungan dengan pelanggannya.


Modal Kreatifitas

Setelah mengasah diri memiliki kepribadian yang jempolan sebagai modal menjalankan usaha, maka modal lain adalah modal kreatifitas.    Kreatifitas ini konon menurut para ahli tidak berhubungan dengan kecerdasan/IQ.  Kreatifitas ini sangat dirasakan kebutuhannya manakala sutau usaha menemui keterbatasannya, keterbatasan uang, bahan baku atau sumberdaya yang lain serta  pemasarannya. 

Konon pula setiap orang memiliki kreatifitas ini, yang terletak dibelahan otak sebelah kanan.  Hanya terasah atau tidak.  Bagi mereka yang biasa menjadi karyawan atau pegawai kreatifitasnya sering ditumpulkan oleh SOP (standard Operating procedur) dan SISDUR.  Mereka tidak terbiasa dan tidak berani keluar dari sistem yang telah dibakukan, bisa-bisa SP (surat Peringatan) yang akan di dapat jika mereka berani melanggar SOP dengan berkreasi menurut caranya sendiri. Ini penting disadari oleh mereka yang akan membuka usaha, tetapi sudah terbiasa menjadi pegawai.  Di dalam dunia wirausaha, berlaku hukum ”sesuatu hasil yang lebih baik tidak akan diperoleh dengan cara yang sama”.  Di dunia wirausaha Sangat dianjurkan untuk perfikir productively bukan reproductively, mengulang kembali cara-cara yang telah terbukti berhasil.  Lingkungan selalu berubah, siklus produk dan siklus usaha selalu mengalami perkembangan.

Banyak teori dan cara yang telah dikembangkan oleh para ahli kreatifitas ini, mulai dengan berlatih berfikir kreatif, berfikir metafora, teori SCAMPER (substitusi, modifikasi, Analog, Magnify, mengambil bagian yang lain/put to other use, eleminasi atau menyingkirkan bagian lainnya hingga me-reverse atau membalik).  Ada pula mengembangkan kreatifitas dengan cara pemaksaan hubungan (Force relationship), memaksakan untuk menghubungkan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan menjadi berhubungan.  Humor plesetan sering pula digunakan untuk melatih kreatifitas ini.

Dengan modal kreatifitas, kita terhindar dari kelatahan bisnis, yang hanya bisa menjadi follower , menjadi peniru, plêk, persis, sehingga tidak memiliki originalitas dan keunikan yang menjadi ciri khas produk dan usahanya.  Wirausahawan seperti ini bagai cerita seorang kakek tua yang bernama Wonokairun yang hanya bisa meniru  rutinitas istrinya  dalam mencuci pakaian, sehingga pada saat ia mencuci kucing  yang banyak kutunya, diakhir pencuciannya,  kucingpun di peras.  Matilah sang kucing di tangannya.


Modal profesionalisme.

Modal usaha lain yang tak kalah pentingnya adalah profesionalitas atau profesionalisme, modal ini sangat menentukan terjadinya keterulangan penjualan, membeli sekali, puas dan membeli lagi berkembang menjadi pelanggan dan  meningkat menjadi pelanggan yang loyal dan ke puncak tataran  menjadi pembela atau advokat.

Jika tataran pembeli sebagai advokat tergapai, maka keberlangsungan dan kelanggengan usaha akan terjamin.  Tanpa profesionalisme upaya mempertahankan pembeli apalagi menjadi pelanggan, loyal dan menjadi pembela tidak akan bisa terwujud.  Profesional dalam menghasilkan produk dan profesional dalam meberikan pelayanan.  Wirausahawan yang profesional akan selalu berfikir untuk mengerjakan apa yang rencanakan, apa yang telah dijanjikan, tetapi tidak asal mengerjakan.  Dikerjakan dan selesai, namun tidak asal selesai. Selesai dengan hasil yang baik dan berstandar tinggi. 

Profesionalitas di atas hanya bisa dicapai dan berkelanjutan manakala setiap proses pekerjaan, dikerjakan secara teliti, dikerjakan oleh orang yang memahami secara menyeluruh dan dilakukan pengawasan serta kontrol yang baik.  Disinilah nantinya ketrampilan teknis sangat diperlukan.  Ketrampilan teknis sesuai bidang usaha kita, termasuk ketrampilan teknis manajemen operasi, pemasaran, tekni mengelola keuangan usaha maupun sumberdaya manusia

Dengan modal kepribadian, kreatifitas dan profesionalisme yang baik, kita akan memiliki berbagai macam keunggulan, otentisitas, ke-khas-an dan keunggulan lainnya dalam kita memproduksi dan mengelola usaha kita, dengan demikian akan memudahkan kita dalam menggapai cita-cita yang telah kita canangkan dan kita rencanakan.

Keunggulan yang kita miliki akhirnya akan mengundang berbagai sumberdaya yang kita perlukan dan tidak kita miliki.  Mereka akan dengan senang menjalin hubungan dengan kita, menjadikan kita sebagai anggota jaringannya. Uang, bahan baku , SDM hingga perijinan akan datang menawarkan diri dengan segala kemudahannya.

Selamat berwirausaha.

Waktu yang tepat untuk memulai usaha

Sutie Rahyono - Praktisi dan Trainer Kewirausahaan


Hampir disetiap diri kita mempunyai keinginan untuk memiliki suatu usaha sendiri. Baik yang belum memiliki pekerjaan, maupun yang sudah memiliki pekerjaan, apalagi yang sedang terkena pemutusan hubungan kerja alias PHK. Tidak sedikit pula para pensiunan masih ingin memiliki usaha, dengan beberapa alasan,  karena masih ingin mempertahankan kesejahteraannya, menggapai keinginan/cita-cita yang belum tergapai, mencukupi kebutuhan/kewajiban yang masih menjadi tanggungan, atau hanya sekedar mengisi waktu, mencari kegiatan agar tidak cepat pikun.

“Keinginan” memiliki usaha biasanya gampang sekali muncul, namun kalau baru sekedar keinginan, biasanya masih jauh dari realisasi untuk terwujud.  Banyak alasan  diajukan, Alasan paling klasik adalah tidak punya modal, belum ada waktu, belum menemukan peluang usaha yang pas, tidak memiliki ketrampilan, takut rugi, banyak saingan.

Lalu kapan waktu yang tepat untuk memulai suatu usaha? Apakah saat masih sekolah/kuliah, setelah lulus. saat kita meniti karir di tempat kerja atau setelah keluar dari pekerjaan baik mengundurkan diri, di-PHK bahkan menunggu sampai saat pensiun tiba?.

Sebelum menentukan kapan memulai usaha, perlu kita renungkan kembali untuk apa uang yang kita harapkan dari usaha itu? Pertanyaan ini perlu dijawab terlebih dahulu, agar saat memulai suatu usaha bisa secepatnya ditentukan.

Fungsi uang ?
Banyak orang ingin memiliki uang tetapi tidak jelas untuk apa, sehingga uang yang dimilikinya akhirnya dipergunakan hanya untuk memenuhi keinginan, bukan untuk memenuhi kebutuhannya, pola pikir tentang fungsi uang ini akan sangat menentukan dalam memanfaatkannya.
Bagi orang yang  berfikir  “ingin memiliki” uang, biasanya keberhasilan mengumpulkan uang akan diwujudkan dalam symbol-simbol kekayaan dan dalam bentuk mater-materi  kemewahan, seperti  mobil dan rumah mewah, serta gaya hidup.  Menurut hasil penelitian selama 20 tahun terhadap orang-orang kaya di Amerika yang  dituangkan dalam buku The Millionaire Next Door oleh penelitinya Thomas J Stanley dan William D. Danko,  dijelaskan orang orang seperti ini rentan bangkrut dan merana hidupnya di hari tua mereka. 

Berbeda bagi orang yang berfikir “ingin menjadi” kaya, mereka ini sangat berhati-hati dalam memanfaatkan uang yang diperolehnya, uang yang dimilikinya hanya akan dipergunakan untuk memenuhi sesuatu yang benar-benar menjadi kebutuhannya bukan keinginannya, bukan diwujudkan dalam symbol-simbol kemewahaan. Gaya hidupnya relatif tidak berubah walaupun penghasilan atau uang yang dimilikiya bertambah, karena mereka akan menikmatinya dihari tua dikala kesehatan dan kemampuannya menurun.    

Akhirnya setelah pikiran kita tentang uang telah kita tata kembali,  ternyata uang yang kita miliki,  akan kita pergunakan untuk membiayai kesejahteraan yang kita rencanakan, kesejahteraan yang kita cita-citakan. untuk itu cita-cita kesejahteraan harus disusun terlebih dahulu dan se-awal mungkin,

Membangun cita-cita
Tidak sedikit diantara kita yang menganggap cita-cita  sama dengan keinginan, akan lebih baik jika keinginan yang kita miliki, kita terjemahkan dulu menjadi “kebutuhan”, kebutuhan yang benar-benar kita perlukan. Misalnya kebutuhan  makan dan sandang yang layak, pendidikan anak, pemilikan rumah, kendaraan dan masa pensiun yang tidak menjadi beban orang lain.
Langkah berikutnya, kebutuhan-kebutuhan tersebut di atas, kita hitung nominal rupiahnya saat ini. Berapa rupiah biaya hidup layak dalam satu bulan, berapa cadangan darurat yang perlu dipersiapkan untuk hidup 3 bulan atau 6 bulan jika PHK atau jika usaha berhenti, berapa biaya pendidikan anak dari SD hingga kuliah, berapa uang muka rumah hingga kendaraan yang diinginkan. Selanjutnya kita canangkan kapan kebutuhan-kebutuhan tersebut harus tersedia. 
Dengan mempertimbangkan nilai inflasi, kebutuhan-kebutuhan di atas akan berkembang menjadi berapa pada saat kita perlukan nanti? dan inilah kebutuhan kita, yang harus kita jadikan sebagai cita-cita. 
Setelah kita bisa menghitung nilai rupiah total kebutuhan kesejahteraan kita, lalu kita harus menabung berapa setaiap hari atau setiap bulannya agar kebutuhan tersebut tersedia saat dibutuhkan, seperti ilustrasi berikut ini.

 Kesejahteraan yang direncanakan / cita-cita
Nilai  saat ini
Jangka Waktu diperlukan (tahun)
Nilai   masa depan        inflasi 6%
Tabungan per hari
  Dana darurat
3.000.000
2
3.370.800
4.682
  Kelahiran anak
5.000.000
2
5.618.000
7.803
  Pendidikan kuliah
27.000.000
16
68.589.495
11.908
  Sepeda Motor
15.000.000
3
17.865.240
16.542
  Uang muka rumah
30.000.000
5
40.146.767
22.304
  Tabungan haji
35.000.000
10
62.679.669
17.411
  Pembelian mobil
150.000.000
15
359.483.729
66.571
  Dana pensiun
150.000.000
28
766.753.005
76.067
 . . . . . . . . . . . . .
 
223.287




















Mungkin kita tercengang dengan jumlah yang dibutuhkan dengan kemampuan saat ini, mungkin akan terjadi pemikiran, “masak harus menabung Rp223.287,- perhari atau 6,6 juta sebulan” sedangkan penghasilan bulanan tidak sampai jumlah tersebut, masak semua ditabung, masak tidak harus makan. 

Utnuk mencukupi kebutuhan tersebut di atas. jangan sekali-kali berfikir, usaha apa yang bisa menghasilkan 6,6 juta sebulan, terlalu sulit.  Lebih baik berfikir dengan berapa cara kebutuhan tabungan diatas bisa diperoleh.  Untuk tabungan pendidikan yang Rp. 11.908,- mungkin bisa kita peroleh dari hasil penghematan yang selama ini dirasa boros.  Atau mungkin bisa berjualan apa saja, untuk yang lain kita cari cara lain untuk memperolehnya.  Sedikit demi sedikit kita kumpulkan dengan cara menabung.

Kebutuhan menabung yang kecil, bisa dimulai dengan usaha yang kecil. Usaha yang kecil akan hanya memerlukan modal kecil dan memiliki resiko usaha yang kecil pula.  Oleh sebab itu waktu yang tepat untuk memulai usaha adalah saat ini, sesaat setelah rencana kebutuhan kesejahterraan direncakan, sedini mungkin. Sekarang atau tidak sama sekali.

HEMAT itu, bukan PELIT

Sutie Rahyono - Praktisi dan Trainer Kewirausahaan

Hampir semua orang ingin menjadi kaya, walaupun kekayaan itu sendiri tidak menjamin kebahagiaan bagi seseorang.  Karena sumber kebahagiaan memang bukan hanya kekayaan.
 
Bagi yang telah memiliki kekayaan berlimpah tidak otomatis sejahtera hingga hari tuanya.  Tidak sedikit orang kaya yang merana di hari tuanya, merana karena banyak menanggung hutang akibat kekayaannya itu sendiri.  Kenapa bisa?

Konon ada dua golongan orang kaya yang berbeda dalam memaknai kekayaannya.  Golongan pertama adalah orang kaya, yang ingin “memiliki (to have) kekayaan”, Golongan kedua  adalah golongan orang kaya yang “ingin menjadi (to be) kaya”.  Begitu menurut  pak Soebekti dkk, dalam bukunya Berkecukupan di Segala Usia.

Golongan orang kaya yang pertama, Orang yang ingin memliki kekayaan, biasanya ingin segera menampilkan kekayaan yang dimilikinya, berupa symbol-simbol status sosial dan symbol-simbol kemapanan.  Mobil mewah, rumah bagus di lingkungan elite dengan sederetan gaya hidup yang menunjukkan bahwa dirinya orang kaya.  Golongan ini sangat giat bekerja karena takut miskin, karena menurutnya, kemiskinan membuat sengsara dan tidak dihormati  dalam pergaulan.  Golongan ini biasanya akan  sangat konsumtif, di dalam memanfaatkan kekayaannya.

Berbeda dengan golongan orang kaya kedua, yang ‘ingin menjadi kaya”.  Perilakunya lebih produktif, golongan ini giat bekerja agar masa tuanya tidak bergantung pada orang lain, orientasi ke depannya adalah kemandirian di masa tua. Golongan ini biasanya tidak merasa takut untuk hidup sederhana demi mewujudkan apa yang diinginkan di masa depan, bahkan mereka akan tetap mempertahankan gaya hidup kesederhanaannya walaupun ia telah memiliki kekayaan.  Baginya tidak perlu ada yang di rubah, dan tidak perlu menambah konsumsinya.

Golongan orang kaya yang pertama, sangat rentan terhadap kemiskinan di masa tuanya, mereka rentan bangkrut, karena gaya hidupnya berbiaya tinggi.  Mereka menjadi konsumtif dan kurang berinvestasi, mereka kurang menyadari, di masa tua kekuatannya untuk bekerja keras telah menurun seiring dengan bertambahnya usia.  Sebaliknya, orang kaya  golongan kedua, mereka sudah bahagia dengan kondisinya sejak awal, tidak konsumtif yang berlebihan.  Keinginannya untuk mandiri di masa tua membuat mereka cenderung hemat.  Golongan ini selalu berfikir dan bertindak untuk selalu menambah investasinya.

Upaya untuk mempertahankan dan menambah kekayaanpun bukan dengan jalan pelit.  Hemat bukan berarti pelit, tetapi mengendalikan. Bukan saja mengendalikan keinginannya, keinginan yang sering didorong oleh berbagai macam nafsu, tapi kebutuhannyapun dikendalikan dengan baik, kebutuhan sebagai sesuatu yang harus dicukupi.  Hidup sederhana bukan berarti mengurangi kualitas hidup.  Pelit hanya akan berbuah mengurangi kualitas hidup. Sehingga kalau ingin mengumpulkan lebih banyak kekayaan seharusnya tidak dengan cara bersikap pelit, tetapi dengan berhemat dan menambah sumber-sumber  penghasilan.

KARYAWAN itu BERPENGHASILAN TETAP dan WIRAUSAHA itu TETAP BERPENGHASILAN

Sutie rahyono - Praktisi dan Trainer Kewirausahaan

Judul di atas kelihatannya sepele, tapi sering dibolak-balik para pelakunya.  Karyawan/wati yang berpenghasilan tetap, setiap bulannja pasti gajian, tetap jumlahnya (kalau tidak punya potongan), bahkan terkadang ditambah bonus, sering bertingkah menggampangkan, seakan ke-tetap-an penghasilannya tak akan pernah putus dan seakan tak akan pernah berakhir, bagai seorang wirausaha yang tetap berpenghasilan.  Akhirnya pola belanja sering tak terkendali, ditambah gampangnya para karyawan mendapatkan kartu kredit berlembar-lembar dari berbagai provider.

Anehnya Wirausahawan/wati yang jelas tidak berpenghasilan tetap, berlagak sama dengan mereka yang berprofesi sebagai karyawan atau pegawai, seakan sudah pasti akhir bulan punya penghasilan.  Alhasil pola belanja disamakan, takut ketinggalan jaman, atau bahkan takut ketahuan ketinggalan penghasilan, tidak sedikit uang modal kulakan dipakai bayar cicilan kartu kredit atau hutang lainnya yang tidak ada hubungannya dengan usahanya.

Kalau ingin tetap berpenghasilan, dan belum berhasil, kita disarankan makan bubur, jangan makan nasi.  Mereka yang akan berhasil menjadi Wirausaha akan disiplin menjaga modal kerjanya jangan sampai berkurang, harus berkembang, harus bertambah.  Kalau penghasilan kita baru bisa untuk membeli satu liter beras, dan anggota keluarga kita bertambah, jangan paksakan menambah untuk membeli beras dengan mengorbankan uang modal usaha, hanya sekedar untuk mempertahankan kebiasaan, apalagi hanya sekedar untuk menopang gengsi.  Kalau hasil usaha yang dirintis baru bisa untuk membeli satu liter beras, jangan paksakan menambah membeli beras, tetap beli beras satu liter, yang ditambah airnya saja.  Artinya saat  ini kita belum mampu masak nasi tapi baru mampu masak bubur, kita makan bubur.  Lebih baik hari ini makan bubur, besuk masih makan bubur, dari pada hari ini kita paksakan makan nasi, besuk tidak bisa makan lagi.

Supaya tetap berpenghasilan dan uang berkembang setiap hari, jangan pegang uang tunai, wujudkan dalam bentuk barang dagangan.  Kalau bentuk uang, besuk jumlahnya tetap tidak bertambah.  Tapi jika dalam bentuk barang dagangan, besuk sudah bertambah, bertambah karena keuntungannya.

Kalau stok barang sudah berlebih, tetap jangan senang menyimpan uang tunai, apalagi dibawah bantal.  Simpan dalam bentuk emas.  Kalau ada yang mau pinjam uang, pinjamkan emas, kembalinya harus emas.  Kalau kita perlu uang tunai jangan dijual emasnya, gadaikan. Semangat menebus kembali akan lebih besar dari pada harus membeli lagi.

Kalau kelebihan uang tunai masih bertambah, dan agar tetap berpenghasilan, maka  jangan simpan telor dalam satu keranjang, pilih investasi yang aman dan menguntungkan.